Senin, 02 November 2015

PENGERTIAN DMG

  Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) didefinisikan sebagai gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil tanpa membedakan apakah penderita perlu mendapat insulin atau tidak. Pada kehamilan trimester pertama kadar glukosa akan turun antara 55-65% dan hal ini merupakan respon terhadap transportasi glukosa dari ibu ke janin. Sebagian besar DMG asimtomatis sehingga diagnosis ditentukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan rutin.
Di Indonesia insiden DMG sekitar 1,9-3,6% dan sekitar 40-60% wanita yang pernah mengalami DMG pada pengamatan lanjut pasca persalinan akan mengidap diabetes mellitus atau gangguan toleransi glukosa. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu dan 2 jam post prandial (pp). Bila hasilnya belum dapat memastikan diagnosis DM, dapat diikuti dengan test toleransi glukosa oral. DM ditegakkan apabila kadar glukosa darah sewaktu melebihi 200 mg%. Jika didapatkan nilai di bawah 100 mg% berarti bukan DM dan bila nilainya diantara 100-200 mg% belum pasti DM.
Pada wanita hamil, sampai saat ini pemeriksaan yang terbaik adalah dengan test tantangan glukosa yaitu dengan pembebanan 50 gram glukosa dan kadar glikosa darah diukur 1 jam kemudian. Jika kadar glukosa darah setelah 1 jam pembebanan melebihi 140 mg% maka dilanjutkan dengan pemeriksaan test tolesansi glukosa oral.
Patofiologi Diabetes Mellitus Pada Kehamilan
Pada DMG, selain perubahan-perubahan fisiologi tersebut, akan terjadi suatu keadaan di mana jumlah/fungsi insulin menjadi tidak optimal. Terjadi perubahan kinetika insulin dan resistensi terhadap efek insulin. Akibatnya, komposisi sumber energi dalam plasma ibu bertambah (kadar gula darah tinggi, kadar insulin tetap tinggi).
Melalui difusi terfasilitasi dalam membran plasenta, dimana sirkulasi janin juga ikut terjadi komposisi sumber energi abnormal. (menyebabkan kemungkinan terjadi berbagai komplikasi). Selain itu terjadi juga hiperinsulinemia sehingga janin juga mengalami gangguan metabolik (hipoglikemia, hipomagnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, dan sebagainya.
Pengelolaan Diabetes Mellitus Pada Kehamilan
Pengelolaan medis
Sesuai dengan pengelolaan medis DM pada umumnya, pengelolaan DMG juga terutama didasari atas pengelolaan gizi/diet dan pengendalian berat badan ibu.
1. Kontrol secara ketat gula darah, sebab bila kontrol kurang baik upayakan lahir lebih dini, pertimbangkan kematangan paru janin. Dapat terjadi kematian janin memdadak. Berikan insulin yang bekerja cepat, bila mungkin diberikan melalui drips.
2. Hindari adanya infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya. Lakukan upaya pencegahan infeksi dengan baik.
3. Pada bayi baru lahir dapat cepat terjadi hipoglikemia sehingga perlu diberikan infus glukosa.
4. Penanganan DMG yang terutama adalah diet, dianjurkan diberikan 25 kalori/kgBB ideal, kecuali pada penderita yang gemuk dipertimbangkan kalori yang lebih mudah.
5. Cara yang dianjurkan adalah cara Broca yaitu BB ideal = (TB-100)-10% BB.
6. Kebutuhan kalori adalah jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan dari:
− Kalori basal 25 kal/kgBB ideal
− Kalori kegiatan jasmani 10-30%
− Kalori untuk kehamilan 300 kalor
− Perlu diingat kebutuhan protein ibu hamil 1-1.5 gr/kgBB
Jika dengan terapi diet selama 2 minggu kadar glukosa darah belum mencapai normal atau normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa di bawah 105 mg/dl dan 2 jam pp di bawah 120 mg/dl, maka terapi insulin harus segera dimulai.
Pemantauan dapat dikerjakan dengan menggunakan alat pengukur glukosa darah kapiler. Perhitungan menu seimbang sama dengan perhitungan pada kasus DM umumnya, dengan ditambahkan sejumlah 300-500 kalori per hari untuk tumbuh kembang janin selama masa kehamilan sampai dengan masa menyusui selesai.
Pengelolaan DM dalam kehamilan bertujuan untuk :
− Mempertahankan kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl
− Mempertahankan kadar glukosa darah 2 jam pp < 120 mg/dl
− Mempertahankan kadar Hb glikosilat (Hb Alc) < 6%
− Mencegah episode hipoglikemia
− Mencegah ketonuria/ketoasidosis deiabetik
− Mengusahakan tumbuh kembang janin yang optimal dan normal.
Dianjurkan pemantauan gula darah teratur minimal 2 kali seminggu (ideal setiap hari, jika mungkin dengan alat pemeriksaan sendiri di rumah). Dianjurkan kontrol sesuai jadwal pemeriksaan antenatal, semakin dekat dengan perkiraan persalinan maka kontrol semakin sering. Hb glikosilat diperiksa secara ideal setiap 6-8 minggu sekali.
Kenaikan berat badan ibu dianjurkan sekitar 1-2.5 kg pada trimester pertama dan selanjutnya rata-rata 0.5 kg setiap minggu. Sampai akhir kehamilan, kenaikan berat badan yang dianjurkan tergantung status gizi awal ibu (ibu BB kurang 14-20 kg, ibu BB normal 12.5-17.5 kg dan ibu BB lebih/obesitas 7.5-12.5 kg).
Jika pengelolaan diet saja tidak berhasil, maka insulin langsung digunakan. Insulin yang digunakan harus preparat insulin manusia (human insulin), karena insulin yang bukan berasal dari manusia (non-human insulin) dapat menyebabkan
terbentuknya antibodi terhadap insulin endogen dan antibodi ini dapat menembus sawar darah plasenta (placental blood barrier) sehingga dapat mempengaruhi janin.
Pada DMG, insulin yang digunakan adalah insulin dosis rendah dengan lama kerja intermediate dan diberikan 1-2 kali sehari. Pada DMH, pemberian insulin mungkin harus lebih sering, dapat dikombinasikan antara insulin kerja pendek dan intermediate, untuk mencapai kadar glukosa yang diharapkan.
Obat hipoglikemik oral tidak digunakan dalam DMG karena efek teratogenitasnya yang tinggi dan dapat diekskresikan dalam jumlah besar melalui ASI.
Pengelolaan obstetrik
Pada pemeriksaan antenatal dilakukan pemantauan keadaanklinis ibu dan janin, terutama tekanan darah, pembesaran/ tinggi fundus uteri, denyut jantung janin, kadar gula darah ibu, pemeriksaan USG dan kardiotokografi (jika memungkinkan).
Pada tingkat Polindes dilakukan pemantauan ibu dan janin dengan pengukuran tinggi fundus uteri dan mendengarkan denyut jantung janin.
Pada tingkat Puskesmas dilakukan pemantauan ibu dan janin dengan pengukuran tinggi fundus uteri dan mendengarkan denyut jantung janin.
Pada tingkat rumah sakit, pemantauan ibu dan janin dilakukan dengan cara :
Pengukuran tinggi fundus uteri
NST – USG serial
Penilaian menyeluruh janin dengan skor dinamik janin plasenta (FDJP), nilai FDJP < 5 merupakan tanda gawat janin.
Penilaian ini dilakukan setiap minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Adanya makrosomia, pertumbuhan janin terhambat (PJT) dan gawat janin merupakan indikasi untuk melakukan persalinan secara seksio sesarea.
Pada janin yang sehat, dengan nilai FDJP > 6, dapat dilahirkan pada usia kehamilan cukup waktu (40-42 mg) dengan persalinan biasa. Pemantauan pergerakan janin (normal >l0x/12 jam).
Bayi yang dilahirkan dari ibu DMG memerlukan perawatan khusus.
Bila akan melakukan terminasi kehamilan harus dilakukan amniosentesis terlebih dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila usia kehamilan < 38 mg).
Kehamilan DMG dengan komplikasi (hipertensi, preeklamsia, kelainan vaskuler dan infeksi seperti glomerulonefritis, sistitis dan monilisasis) harus dirawat sejak usia kehamilan 34 minggu. Penderita DMG dengan komplikasi biasanya memerlukan insulin.
Penilaian paling ideal adalah penilaian janin dengan skor fungsi dinamik janin-plasenta (FDJP).

Bahaya Diabetes Untuk Ibu Hamil

Bahaya Diabetes Bagi Ibu Hamil

Bahaya Diabetes Bagi Ibu Hamil – Diabetes Gestational adalah suatu bentuk diabetes yang terjadi untuk pertama kalinya ketika seorang wanita hamil. Jenis diabetes ini disebabkan oleh perubahan dalam cara tubuh wanita merespon hormon insulin selama kehamilannya. Hasil Perubahan kadar gula darah, juga dikenal sebagai glukosa darah.
Diabetes Gestational mempengaruhi sekitar 18 persen wanita selama kehamilan. Hal ini penting untuk mendiagnosa dan mengobati kehamilan diabetes untuk menghindari komplikasi kesehatan untuk Anda dan bayi Anda. diabetes gestasional sangat penting untuk kesehatan Anda dan kesehatan bayi Anda.

ibu hamil diabetes 
Faktor Risiko Yang Umumnya Terkait Dengan Peningkatan Diabetes Gestasional Meliputi:
• Memiliki riwayat diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya.
• Menjadi kelebihan berat badan atau obesitas .
• Menjadi lebih tua dari 25 tahun.
• Memiliki riwayat keluarga diabetes (terutama jika orang tua atau saudara memiliki diabetes).
• Jika Anda sebelumnya melahirkan bayi dengan berat lebih dari £ 9.
• Memiliki glukosa dalam urin Anda.
• Menjadi Afrika-Amerika, Hispanik, Amerika atau Asia asli.
• Memiliki “pradiabetes,” juga dikenal sebagai gangguan toleransi glukosa.
Bagaimana saya tahu jika saya memiliki diabetes gestasional?
Risikonya pada Ibu. Untuk calon ibu, risiko yang mungkin terjadi akibat diabetes adalah:
1. Pre-eklampsia.
2. Persalinan prematur
3. Cairan ketuban berlebihan (hidramnion).
4. Infeksi saluran kemih.
5. Infeksi vagina berupa keputihan karena jamur yang berulang.
Risiko pada Janin. Apapun yang terjadi pada calon ibu, janin pasti turut merasakan akibatnya. Hati-hati, sebab diabetes bisa membuat janin di perut Anda mengalami :

ibu hamil diabetes1
– Pertumbuhannya terhambat.
– Lahir besar atau giant baby (makrosomia) sehingga harus dilahirkan secara caesar. Ini akibat janin menerima pasokan gula berlebih dari ibu, diubah menjadi protein dan lemak, sehingga membuatnya besar.
– Cacat bawaan, peluangnya 3 kali lebih besar dari kehamilan normal.
– Meningkatnya kadar bilirubin.
– Sindroma gangguan napas. Kelebihan insulin menghambat kerja hormon kortisol yang berfungsi mematangkan paru-paru janin. Akibatnya, paru-paru janin belum matang di usia 38 minggu. Risikonya, terjadinya sindroma gawat napas. Cegah dengan melakukan pemeriksaan air ketuban untuk memantau kematangan paru-paru janin.
– Kekurangan glukosa dan kalsium.
– Kelainan jantung.
– Kelainan neurologik dan psikologik pada bayi di kemudian hari.
– Kematian mendadak di kandungan (sudden death), akibat darahnya kekurangan oksigen dan kelebihan asam laktat. Ini risiko jika kadar gula darah ibu tidak terkontrol.
Jika Anda berada pada risiko tinggi untuk mengembangkan diabetes gestasional, kadar glukosa darah Anda kemungkinan akan diperiksa pada kunjungan prenatal pertama Anda. The American Diabetes Association merekomendasikan skrining untuk diabetes gestasional pada kunjungan prenatal pertama bagi wanita dengan faktor risiko yang diketahui.
Mengobati Diabetes Gestational
Untuk menghindari komplikasi yang terkait dengan diabetes gestasional, sangat penting bahwa Anda memantau dan mengontrol kadar glukosa darah Anda. Anda juga perlu untuk menerima perawatan yang tepat dan disaring secara teratur.
Risiko Penyakit Diabetes Pada Ibu hamil dan Janin 









Risiko Pada Janin
Apapun yang menjadi risiko pada calon ibu, janin pasti turut merasakan akibatnya. Berikut ini risiko pada janin:
  • Pertumbuhan yang terhambat
  • Lahir besar atau giant baby (makrosomia) sehingga harus dilahirkan secara caesar.  Ini akibat janin menerima pasokan gula berlebih dari ibu, diubah menjadi protein dan lemak, sehingga membuatnya  besar.
  • Cacat bawaan, peluangnya 3 kali lebih besar dari kehamilan normal.
  • Meningkatnya kadar bilirubin.
  • Sindroma gangguan napas. Kelebihan insulin menghambat kerja hormon kortisol yang berfungsi mematangkan paru-paru janin. Akibatnya, paru-paru janin belum matang di usia 38 minggu. Risikonya, terjadinya sindroma gawat napas. Cegah dengan melakukan pemeriksaan air ketuban untuk memantau kematangan paru-paru janin.
  • Kekurangan glukosa dan kalsium.
  • Kelainan jantung.
  • Kelainan neurologik dan psikologik pada bayi di kemudian hari.
  • Kematian mendadak di kandungan (sudden death), akibat darahnya kekurangan oksigen dan kelebihan asam laktat. Ini risiko jika kadar gula darah ibu tidak terkontrol.
Untuk itu, diperlukan juga konsultasi dengan dokter jika ibu mengalami diabetes pada masa kehamilan. Hal ini bertujuan untuk menghindari risiko-risiko yang memungkinkan terjadi seperti diatas pada ibu dan janin.

Gejala dan komplikasi DMG

1 | Mati rasa
Pada banyak kasus diabetes yang menimpa sebagian orang, hampir seluruhnya mengalami gejala berupa mati rasa. Adapun bagian tubuh yang sering merasakan mati rasa (kebas) atau kesemutan adalah tangan, kaki, beserta jari-jemarinya. Peringatan awal diabetes ini terjadi karena peningkatan kadar gula darah, membuat serabut saraf mengalami kerusakan.
2 | Lebih sering buang air kecil
Penderita diabetes sering mengatakan dirinya mengalami peningkatan dorongan ingin buang air kecil. Jika sewaktu-waktu Anda mengalami hal serupa, coba konsultasikan sedini mungkin pada dokter agar mendapatkan perawatan lebih cepat dan terkontrol.
3 | Berat badan berkurang
Menjadi kabar baik bagi orang yang bermasalah dengan kegemukan maupun obesitas. Tetapi, melihat faktor pemicu turunnya berat badan adalah karena diabetes, tentu membuat Anda semakin khawatir. Terjadinya penurunan berat badan ini memang berhubungan erat pada penderita, sebab tubuh tidak mampu menyerap glukosa (sumber energi tubuh) dengan benar.
4 | Nafsu makan meningkat
Bertambahnya rasa ingin makan bisa menjadi tanda lain dari diabetes. Rasa lapar ini tidak bisa dikendalikan, sebab sinyal lapar yang dikirim oleh tubuh ini harus dipenuhi keinginannya agar semua sel menjadi berfungsi dengan baik karena mendapatkan asupan glukosa yang lebih banyak.
Rasa lapar tersebut bukan karena sel-sel di dalam tubuh tidak mendapatkan asupan glukosa dari makanan, melainkan karena makanan yang sudah ditelan tidak apat masuk ke dalam sel untuk dipakai dalam proses metabolisme, sehingga timbul lah respon tubuh seperti lapar.
5 | Penglihatan mulai kabur atau buram
Masalah seperti ini seringkali menjadi keluhan umum penderita diabetes tipe 2. Penglihatan menjadi kabur atau buram atau tidak jelas seperti biasanya, terjadi akibat kadar glukosa melonjak naik, sehingga merusak pembuluh darah dan membatasi cairan yang masuk ke mata. Kondisi ini bisa mengubah bentuk lensa dan mata.
 
Kabar baiknya, gejala ini reversibel (dapat kembali normal) seiring dengan berkurangnya kadar gula darah hingga batas wajar. Namun, bila gula darah tetap tinggi kelainan pada mata ini bisa berujung pada kebutaan permanen.
6 | Masalah kulit
Diabetes mememgaruhi sirkulasi darah, dan membuat kelenjar keringat mengalami disfungsional, sehingga membuat kulit menjadi bersisik, terasa gatal, kering, dan iritasi. Gejala yang satu ini cukup sulit dideteksi sebagai diabetes, karena banyak penyebab lain yang membuat kulit bermasalah seperti ini. 
7 | Kelelahan dan cepat emosi
Rasa lelah ini muncul bukan tanpa sebab. Ketika tidur, penderita diabetes akan tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya. Kerap kali bangun untuk berkemih dan minum air, sehingga proses tidur terganggu alias tidak berkualitas. Keesokan harinya tubuh mengalami kelelahan dan tak jarang mengundang emosi.
8 | Rasa haus
Tadi telah disebutkan bahwa ciri-ciri penderita diabetes adalah sering buang air kecil. Peningkatan dorongan untuk berkemih akan memengaruhi cairan yang berada di dalam tubuh, sehingga mengakibatkan dehidrasi. Tubuh yang kekurangan cairan akan memberikan respon berupa rasa haus dengan tujuan mengembalikan cairan yang hilang.
9 | Proses pemulihan luka yang lambat
Terdapatnya luka ketika kondisi tubuh sedang tidak baik, seperti kelebihan gula darah membuat sistem imun atau kekebalan tubuh menjadi tidak normal. Hal ini tentu mempengaruhi laju pemulihan luka atau memar, akan memakan waktu lebih lama dari biasanya. 
10 | Gangguan pada gusi
Dari kejadian-kejadian yang sudah berlalu, penderita diabetes lebih rentan mengalami kerusakan gusi. Seperti misalnya gusi menjadi merah, mengalami pembengkakan, dan iritasi. Bahkan ada yang merasakan gusinya menyusut dari gigi dan terjadilah infeksi gusi.
11 | Infeksi jamur
Diabetes memengaruhi sistem kekebalan tubuh penderitanya. Tubuh akan rentan terhadap serangan berbagai bakteri dan jamur (candida). Semakin banyak jumlah bakteri atau jamur yang masuk ke dalam tubuh selama sistem imun tidak siap untuk membentengi tubuh. Jika sudah demikian, contoh masalah yang patut diwaspadai, khususnya bagi wanita adalah mengalami keputihan akibat infeksi candida (jamur).
 
Tanda dan Gejala:
1.      Polidipsis
2.      Poliuri
3.      Polifalgia
4.      Penurunan BB
5.      Lemah
6.      Mengantuk (samnolen)
7.      Dapat timbul ketoasidosis

  Komplikasi Diabetes Melitus
Diabetes gestasional bisa menimbulkan komplikasi pada wanita hamil. Misalnya saja menyebabkan kelahiran bayi prematur, peningkatan risiko keguguran, menimbulkan gangguan organ-organ tertentu (jantung dan otak), dan meningkatkan risiko mengandung bayi yang hyperinsulinemia (bayi yang tinggi kadar gula darahnya saat dalam kandungan dan menurun drastis saat dilahirkan).
Walaupun selama masa hamil seorang wanita menderita diabetes gestasional, ia bisa melahirkan bayi yang sehat dan normal asalkan wanita hamil tersebut mendapatkan penanganan yang tepat oleh ahli yang tepat pula.
Ada dua kategori komplikasi diabetes melitus:
1.      Komplikasi akut
a.       Ketoasidosis diabetika
-          Pernafasan kusmaul (cepat dan dalam)
-          Penurunan tingkat kesadaran
-          Pernafasan bau aseton
b.      Hipoglikemi: berkeringat, gemetar, sakit kepala, palpitasi
c.       Hiperglikemia
2.      Komplikasi kronik
a.       Mikroangiopati/mikrovaskuler
·         Neuropati, sering terjadi sebagai komplikasi dari diabetes, terjadi karena jaringan sudah tidak mendapat suplai darah yang memadai, jaringan sudah tidak mendapat difusi nutrisi dan oksigen. Ketika akson dan dendrit tidak mendapatkan makanan, maka transmisi dari rangsang melambat. Pada penderita Diabetes Mellitus dapat mengalami neuropati yang mempengaruhi sistem saraf otonom dan perifer.
Pada keadaan ini terjadi gastroparesis yaitu motilitas pencernaan yang lambat sehingga klien merasa penuh pada perut, kembung, diare, inkontinensia dan impotensi pada laki-laki.
·         Nefropati
Salah satu akibat dari mikroangiopati ini adalah terjadinya kerusakan dari glomerulus ginjal. Kerusakan dari glomerulus ini mengakibatkan perubahan patologis yang kompleks. Adanya protein dalam urine merupakan indikasi awal adanya penyakit pada ginjal.
·         Retinopati
Retina adalah salah satu struktur esensial dalam mata, mempunyai kebutuhan oksigen yang tinggi dari jaringan lain dalam tubuh, jika retina mengalami gangguan aliran darah dan oksigen maka dapat menyebabkan kerusakan pada retina. Katarak juga dapat terjadi yang disebabkan oleh adanya hiperglikemi yang berkepanjangan yang menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa.
 
 
 
 
 

Senin, 19 Oktober 2015

Apa penyebab DMG? Apa Dampaknya Bagi ibu dan Bayi? dan Bagaimana Penanganan Kehamilannya? ?

 Penyebab DMG
Terjadinya DMG dikarenakan menurunnya efisiensi kerja maupun kadar insulin dalam tubuh . Insulin adalah suatu hormon yang disekresikan (diproduksi) oleh sel- sel β di pankreas (salah satu organ pencernaan) dan bertugas untuk menurunkan kadar glukosa dalam tubuh dengan cara mempengaruhi atau merangsang terjadinya 3 proses dalam tubuh yaitu: 

(1) Proses glukolisis adalah proses pemecahan glukosa pada saat metabolisme sehingga menghasilkan energi. Insulin memfasilitasi terjadinya proses ini sehingga dengan kata lain insulin merangsang pemakaian glukosa oleh tubuh.
(2) Proses glikogenesis yaitu mekanisme pengubahan glukosa menjadi glikogen sehingga dapat disimpan di tubuh. Mekanisme ini amat penting sehingga tubuh memiliki cadangan sumber energi berupa glikogen yang dapat diubah kembali menjadi glukosa bila sewaktu- waktu tubuh kekurangan glukosa. Selain itu, glikogenesis juga merupakan salah satu jalan untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah. Penting untuk diketahui bahwa glukosa tidak bisa dijadikan cadangan sumber energi di dalam tubuh seperti halnya glikogen sehingga glukosa yang berlebihan akan dibuang melalui urin. Oleh karena itu bila dilakukan tes urin pada penderita diabetes biasanya terkandung glukosa dalam urinnya;
(3) Proses lipogenesis. yaitu merupakan suatu mekanisme tubuh untuk membuat cadangan sumber energi lain yaitu berupa lipid (lemak) selain dengan cara glikogenesis. Proses ini juga merupakan cara penurunan kadar glukosa selain glikogenesis. Lemak yang terbentuk dapat disimpan di tubuh dalam jumlah yang tak terbatas terutama dibawah lapisan kulit yang kerap kali dapat menimbulkan obesitas. Karena itu, pada orang yang obesitas resiko terkena diabetes akan semakin tinggi.
Menurunnya efektivitas kerja dan kadar insulin dalam tubuh mengakibatkan frekuensi berlangsungnya ketiga proses diatas menjadi menurun atau terganggu, sehingga kadar glukosa dalam darah menjadi meningkat dan relatif stabil dalam keadaan jauh diatas ambang normal (hiperglikemia) terutama setelah makan.

 Dampak DMG Bagi Ibu dan Bayi
Menurut Prawirohardjo (2009, 290-291) dan Brudenell serta Doddridge (1996, 65-67) berbagai macam dampak dapat ditimbulkan akibat DMG. Dampak yang ditimbulkan bahkan dapat ini dapat membahayakan nyawa ibu maupun janin.
Dampak DMG yang dapat diderita oleh janin kehamilan dengan DMG adalah sebagai berikut: 
(1) Makrosomia
(2) Hipoglikemia
(3) Hambatan Pertumbuhan Janin
(4) Cacat Bawaan
(5) hipokalsemia dan Hipomagnesemia
(6) Polisitemia hematologis
(7) Hiperbilirubinnemia
(8) Asfiksia pada bayi baru lahir
(9) Meningkatnya resiko terlahir prematur dan terjadi keguguran.
 
 
(1) Makrosomia adalah janin berukuran besar melebihi normal bahkan dapat mencapai berat 5 kg. Sebanyak 40% ibu dengan DMG melahirkan bayi dengan berat badan berlebihan pada semua usia kelahiran. Makrosomia mempertinggi terjadinya cedera kelahiran yang dapat disebabkan sulitnya bahu keluar melewati jalan lahir akibat berat badan yang berlebihan, sehingga dapat menyebabkan patah tulang pada janin di bagian tertentu. Bahkan dapat menyebabkan kematian karena bayi sulit untuk keluar melalui jalan lahir pada saat persalinan.
 (2) Hipoglikemia yaitu kadar glukosa dalam darah yang terlalu rendah. Sekitar 20-50% bayi dengan ibu DMG mengalami hipolikemia (Kadar gula dalam rendah/ di bawah normal) pada 24 jam pertama setelah lahir. Karena produksi insulin bayi yang, sebagai reaksi terhadap kadar glukosa ibu yang tinggi,
(3) Hambatan Pertumbuhan Janin, berat badan bayi rendah pada kehamilan 37-40 minggu. Terjadi pada ibu DMG dengan komplikasi vaskular. Hal ini terjadi juga karena adanya perubahan metabolik ibu selama masa awal kehamilan.
(4) Kelainan kongenital dan kelainan bawaan. Kejadian cacat bawaan pada bayi dari ibu DMG sebanyak 4,1% . Cacat bawaan terjadi paling banyak pada kehamilan dengan DMG yang tidak dipantau sebelum kehamilan dan pada trisemester pertama. Terjadi 50% kematian pada bayi dari ibu DMG yang mengalami cacat bawaan yang berupa pembesaran organ- organ vital seperti jantung, hati, ginjal, dan lain- lain.
(5) hipokalsemia dan Hipomagnesemia. Hipokalsemia adalah keadaan dimana kadar Kalsium dalam darah yang rendah sedangkan hipomagnesemia adalah kadar Kalsium dalam darah yang terlalu rendah. Masalah ini lebih banyak bayi dari ibu DMG dibandingkan pada bayi dari ibu nonDMG.
(6) Polisitemia adalah suatu keadaan patologis dimana jumlah sel darah merah (eritrosit) yang terkandung dalam darah melampaui batas normal sehingga darah menjadi lebih kental. Polisitemia terjadi pada bayi yang terlahir dari ibu DMG. Polisitemia dapat menyebabkan penyubatan pembuluh darah, serangan jantung, dan stroke.
(7) Hiperbilirubinnemia adalah jumlah bilirubin yang berlebihan didalam tubuh. Hal ini merupakan akibat lanjutan setelah terjadi polisitemia. Keberadaan eritrosit yang tinggi menyebabkan eritrolisis (pemecahan eritrosit) yang tinggi pula. Salah satu hasil dari eritrolisis adalah bilirubin. Salah satu dampak dari hiperbilirubin yang paling umum terjadi adalah ikterus. Ikterus menyebabkan kulit, lidah, dan mata sklera mata bayi berwarna kekuningan.
 (8) Asfiksia dan sindrome gawat napas. Asfiksia merupakan kondisi kekurangan oksigen pada pernafasan yang bersifat mengancam jiwa. Sedangkan sindrome gawat napas lebih sering terjadi pada bayi yang lahir prematur. Resiko terjadinya asfiksia dan sindrome gawat napas lebih tinggi pada bayi dari ibu dengan DMG, karena bayi sangat terpengaruh oleh hiperglikemia ibu sewaktu dalam kandungan.
(9) Meningkatnya resiko terlahir prematur dan terjadi keguguran. Resiko terjadinya keguguran dapat meningkat 2-3 kali lipat bila dibandingkan dengan kehamilan normal tanpa DMG, sedangkan resiko kelahiran prematur meningkat sampai 8%.
 
 
Sedangkan dampak DMG bagi si ibu adalah:  
(1) preklamsia
(2) polihidramnion
(3) infeksi saluran kemih
(4) persalinan seksio cesarea
(5) Meningkatkan peluang terkena penyakit diabetes melitus. 
 
 
(1) Preklamsia adalah keracunan pada kehamilan, namun keracunan yang terjadi bukan disebabkan oleh zat- zat yang berasal dari luar tubuh tapi dari dalam tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan komplikasi dan kematian pada ibu hamil. Peningkatan resiko preklamsi dibandingkan kehamilan normal sebanyak 12%.
(2) Polihidramnion adalah volume air ketuban yang berlebihan. Sehingga dapat menyebabkan kelahiran prematur, permasalahan dengan tali pusar bayi, pendarahan hebat pda ibu setelah melahirkan, perkembangan bayi yang lamban sampai dengan kematian bayi. DMG meningkatkan peluang kejadian polihidramnion hingga 18% dibandingkan kehamilan normal.
(3) Infeksi Saluran Kemih. Kadar glukosa darah dapat terjadi menyebabkan gangguan pada sistem pembentukan urine sehingga terjadi infeksi saluran kemih.
(4) Persalinan seksio cesarea. Persalinan pada ibu penderita DMG adalah persalinan beresiko tinggi terjadi kematian baik pada ibu maupun pada janin apabila dilakukan secara normal Sehingga harus dilakukan persalinan dengan jalan seksio cesarea. Hal ini disebabkan resiko melahirkan bayi dalam keadaan makrosomia ataupun prematur yang tinggi pula. Peluang terjadi persalinan seksio cesarea pada ibu penderita DMG dapat meningkat hingga mencapai 20-60% dibandingkan kehamilan normal.
(5) Meningkatkan peluang terkena penyakit diabetes melitus (DM). Banyaknya peningkatan peluang tersebut adalah sebanyak 50% akan mengalami DMG pada kehamilan selanjutnya dan 40 – 60% akan menderita DM dimasa depan.
 
Penanganan Kehamilan dengan DMG
Perawatan dan penanganan bagi ibu hamil yang menderita DMG dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:  Diet dan pemberian insulin.
 
 (1) Diet merupakan langkah awal untuk mengatasi DMG. Menurut Hunter dan (2004, 107-111) ada beberapa tips dalam menjalankan diet bagi penderita DMG yaitu:
(a) Ikuti paduan diet seimbang. Diet yang sesuai merupakan bagian penting pada penatalaksanaan semua wanita hamil yang diabetes. Diet pada penderita DMG bertujuan untuk mengendalikan dan menghentikan peningkatan glukosa darh yang terlalu tinggi dan kemudian menyebabakan masalah- masalah kesehatan.
(b) Jangan mengurangi asupan makanan dalam jumlah yang terlalu banyak, karena bagaimanapun juga pada ibu hamil tetap dibutuhkan asupan makanan yang bergizi tinggi untuk memenuhi baik kebutuhan tubuh ibu sendiri maupun untuk kebutuhan tumbuh kembang janin yang ada dalam kandungannya.
(c)  Makan dan minum dengan teratur setiap hari sehingga tingkat glukosa darah tetap relatif stabil,  tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Ini mungkin dapat dilakukan dengan cara makan makanan utama dalam porsi yang sedikit lebih kecil daripada biasanya dan satu atau dua kudapan tambahan yang sehat seperti buah dan sayuran.
(d) Hindari asupan gula yang banyak baik pada makanan maupun minuman karena pankreas mungkin tidak mampu memproduksi cukup insulin untuk itu. Ingatlah bahwa semakin banyak kata- kata yang tercantum dalam daftar bahan- bahan (ingredients), maka semakin besar pula kandungan gula pada makanan tersebut. Yang harus dihindari adalah gula yang diserap terlalu cepat seperti dekstosa, glukosa, sukrosa, dana maltosa. Pada nasi banyak terkandung glukosa sehingga dokter biasanya akan menyarankan untuk menggantinya denag jagung atau singkong. Gula alami dalam susu (laktosa) dan buah (fruktosa) diserap lebih lambat.
(e) Ganti makanan bergula dengan makanan berserat. Makanan yang mengandung serat larut (seperti oat, buncis, kapri, lentil, dan beberapa buah) lebih lambat diserap daripada yang lain sehingga dapat membantu menghindari kenaikan glukosa darah yang tiba- tiba. Selain itu makanan berserat juga membantu menunda datangnya rasa lapar saat diet karena strukturnya yang cenderung lebih sukar dicerna daripada makanan bergula sehingga akan bertahan lebih lama dalam saluran makanan yang akan membantu menunda kekosongan perut dan rasa lapar.
Menurut Prawirohardjo (2009, 294) pada umumnya oleh dokter untuk penderita DMG dianjurkan jumlah kalori yang dikonsumsi adalah 35 kal/kgBB ideal, kecuali pada penderita yang obesitas, perlu dipertimbangkan kalori yang sedikit rendah. Cara untuk menghitung BB (Berat badan) ideal adalah dengan rumus: BB ideal = (TB-100)-10%.
Kebutuhan kalori merupakan jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan dari: (a) kalori basal 25 kal/kgBB ideal, (b) kalori untuk kegiatan jasmani 10-30%, (c) Penambahan kalori untuk kehamilan 300 kal. Komposisi makanan yang dianjurkan sama dengan komposisi makanan yang dianjurkan untuk pasien DM pada umunya. Namun, untuk menjamin pertumbuhan janin yang baik harus diingat bahwa kebutuhan protein ibu hamil dianjurkan 1-1,5 g/kgBB. 
 
(2) Pemberian Insulin. Ibu hamil yang menderita DMG atau yang mempunyai konsentrasi gula darah yang tinggi harus dirawat lebih seksama dan diberi insulin apabila dengan diet tidak cukup berhasil untuk menurunkan kadar glukosa.  
Dosis insulin yang diberikan sangat individual. Pemberian insulin ditujukan untuk mencapai konsentrasi gula darah yang normal karena insulin mampu mengatasi gula darah yang berlebihan. Makrosomia dapat diturunkan dengan cara pemberian insulin untuk mencapai konsentrasi darah dalam keadaan setelah makan kurang lebih 80 mg/dl (4,4 mmol/l). Oleh karena itu, dalam pemberian insulin akan dipertimbangkan ketepatan waktu pengukuran gula darah, konsentrasi target glukosa, dan karakteristik pertumbuhan janin.

Menjaga Kesehatan Ibu Hamil yang Menderita Diabetes

Ibu hamil akan mengalami banyak perubahan baik secara fisik dan psikis sehingga memerlukan perhatian khusus untuk kesehatannya. Begitu juga bagi ibu hamil yang menderita diabetes memerlukan pemeriksaan khusus untuk mengontrol kestabilan gula darah selama kehamilan. Ibu hamil yang memiliki riwayat diabetes baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2 harus memiliki jadwal pemeriksaan khusus untuk meminimalisir gangguan pada kesehatan ibu dan janin selama kehamilan. Banyak cara yang bisa anda lakukan untuk menjaga kesehatan termasuk untuk anda yang memiliki riwayat diabetes. Bagi anda yang mengalami diabetes, perawatan medis selama kehamilan sangat diperlukan untuk dapat mengetahui kestabilan gula darah dan kebutuhan nutrisi kehamilan. Sehingga janin anda tidak kekurangan nutrisi dan juga kestabilan gula darah dapat terjaga dengan menu seimbang di setiap harinya.

Bagi anda yang memiliki riwayat diabetes dapat melakukan konsultasi dengan dokter kandungan yang mampu mengamati perkembangan janin dan memberikan penanganan khusus sesuai dengan riwayat kesehatan anda, sesekali anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialisi mata untuk dapat memantau kerusakan terkait diabetes ke pembuluh darah kecil di mata anda, yang dapat berkembang selama kehamilan. Mengontrol kadar gula darah adalah cara terbaik untuk mencegah komplikasi diabetes. Selama kehamilan mengontrol gula darah harus dilakukan lebih sering dari keadaan normal, hal ini untuk mengurangi risiko keguguran dan kelahiran mati.
Mengurangi resiko kelahiran prematur. Semakin rutin anda melakukan kontrol gula darah maka akan meminimalisir kelahiran prematur, selain itu untuk mengurangi risiko cacat lahir karena kontrol gula darah yang baik selama awal kehamilan sangat mengurangi risiko bayi Anda lahir cacat, terutama yang mempengaruhi otak, tulang belakang dan jantung. Dengan mengontrol gula darah secara rutin selama kehamilan akan mengurangi risiko pertumbuhan berlebih. Jika Anda memiliki kontrol gula darah yang buruk, glukosa ekstra dapat melintasi plasenta. Hal ini memicu pankreas bayi Anda untuk membuat insulin ekstra, yang dapat menyebabkan bayi tumbuh terlalu besar (makrosomia). Seorang bayi besar membuat persalinan sulit dan menempatkan bayi pada risiko cedera selama kelahiran.
Bagi anda yang menderita diabetes mengontrol gula darah untuk melakukan pencegahan terhadap komplikasi kesehatan. Kontrol gula darah yang baik akan mengurangi risiko tekanan darah tinggi, tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urin setelah 20 minggu kehamilan dan juga untuk komplikasi kehamilan yang serius lainnya. Hal yang tidak boleh luput dari perhatian anda adalah dengan melakuan pengontrolan gula darah akan membantu mencegah komplikais pada bayi karena terkadang bayi dari ibu yang mengidap diabetes mengembangkan gula darah rendah (hipoglikemia) segera setelah lahir karena produksi insulin mereka sendiri tinggi. Mengontroln gula darah secara teratur dapat membantu anda dalam meningkatkan gula darah yang sehat untuk kesehatan bayi anda, begitu pula dengan asupan yang sehat dari kalsium dan magnesium dalam darah yang dapat membantu mencegah kesehatan kulit dan mata setelah lahir. Pola hidup sehat sangat diperlukan selama kehamilan begitu juga untuk anda yang menderita diabetes.

Lakukan beberapa pola hidup sehat berikut untuk meminimalisir gangguan kesehatan selama kehamilan bagi yang menderita diabetes.

1.  Periksa kadar gula darah Anda dengan rutin. Dengan melakukan pemantauan gula darah dapat membantu anda mencegah gula darah rendah dan gula darah tinggi (hiperglikemia).Hal yang harus anda ketahui adalah mengendalikan gula darah Anda adalah cara terbaik untuk mendapatkan kehamilan yang sehat dan mencegah komplikasi dari penyakit diabetes yang anda derita.
2.  Anda harus mengingat prinsip makanan sehat. Menu diet diabetes anda mungkin mencakup buah-buahan, sayuran dan biji-bijian. Meskipun Anda bisa mengkonsumsi makanan yang sama dengan wanita normal lainnya, dokter mungkin menyarankan perubahan rencana menu makan anda  untuk membantu anda menghindari masalah dengan gula darah rendah atau gula darah tinggi. Ini juga penting untuk mengambil vitamin yang mengandung asam folat.
3.  Sertakan aktivitas fisik dalam rutinitas harian Anda. Aktivitas fisik merupakan bagian penting lain dari rencana perawatan diabetes anda, bahkan selama kehamilan. Hal yang harus anda ingat bahwa aktivitas fisik mempengaruhi gula darah. Periksa kadar gula darah sebelum dan setelah aktivitas apapun, terutama jika Anda menggunakan insulin. Anda mungkin perlu untuk makan camilan atau menyesuaikan tingkat basal pompa insulin sebelum berolahraga untuk membantu mencegah gula darah rendah.