Penyebab DMG
Terjadinya DMG dikarenakan
menurunnya efisiensi kerja maupun kadar insulin dalam tubuh . Insulin adalah
suatu hormon yang disekresikan (diproduksi) oleh sel- sel β di pankreas (salah
satu organ pencernaan) dan bertugas untuk menurunkan kadar glukosa dalam tubuh
dengan cara mempengaruhi atau merangsang terjadinya 3 proses dalam tubuh yaitu:
(1) Proses
glukolisis adalah proses pemecahan glukosa pada saat metabolisme sehingga
menghasilkan energi. Insulin memfasilitasi terjadinya proses ini sehingga
dengan kata lain insulin merangsang pemakaian glukosa oleh tubuh.
(2) Proses
glikogenesis yaitu mekanisme pengubahan glukosa menjadi glikogen sehingga dapat
disimpan di tubuh. Mekanisme ini amat penting sehingga tubuh memiliki cadangan
sumber energi berupa glikogen yang dapat diubah kembali menjadi glukosa bila
sewaktu- waktu tubuh kekurangan glukosa. Selain itu, glikogenesis juga
merupakan salah satu jalan untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah. Penting
untuk diketahui bahwa glukosa tidak bisa dijadikan cadangan sumber energi di
dalam tubuh seperti halnya glikogen sehingga glukosa yang berlebihan akan
dibuang melalui urin. Oleh karena itu bila dilakukan tes urin pada penderita
diabetes biasanya terkandung glukosa dalam urinnya;
(3) Proses
lipogenesis. yaitu merupakan suatu
mekanisme tubuh untuk membuat cadangan sumber energi lain yaitu berupa lipid
(lemak) selain dengan cara glikogenesis. Proses ini juga merupakan cara
penurunan kadar glukosa selain glikogenesis. Lemak yang terbentuk dapat
disimpan di tubuh dalam jumlah yang tak terbatas terutama dibawah lapisan kulit
yang kerap kali dapat menimbulkan obesitas. Karena itu, pada orang yang
obesitas resiko terkena diabetes akan semakin tinggi.
Menurunnya
efektivitas kerja dan kadar insulin dalam tubuh mengakibatkan frekuensi
berlangsungnya ketiga proses diatas menjadi menurun atau terganggu, sehingga
kadar glukosa dalam darah menjadi meningkat dan relatif stabil dalam keadaan
jauh diatas ambang normal (hiperglikemia) terutama setelah makan.Dampak DMG Bagi Ibu dan Bayi
Menurut
Prawirohardjo (2009, 290-291) dan Brudenell serta Doddridge (1996, 65-67) berbagai
macam dampak dapat ditimbulkan akibat DMG. Dampak yang ditimbulkan bahkan dapat
ini dapat membahayakan nyawa ibu maupun janin.
Dampak
DMG yang dapat diderita oleh janin kehamilan dengan DMG adalah sebagai berikut:
(1) Makrosomia
(2) Hipoglikemia
(3) Hambatan Pertumbuhan Janin
(4) Cacat
Bawaan
(5) hipokalsemia dan Hipomagnesemia
(6) Polisitemia hematologis
(7) Hiperbilirubinnemia
(8) Asfiksia pada bayi baru lahir
(9) Meningkatnya resiko terlahir prematur
dan terjadi keguguran.
(1)
Makrosomia adalah janin berukuran besar melebihi normal bahkan dapat mencapai
berat 5 kg. Sebanyak 40% ibu dengan DMG melahirkan bayi dengan berat badan
berlebihan pada semua usia kelahiran. Makrosomia mempertinggi terjadinya cedera
kelahiran yang dapat disebabkan sulitnya bahu keluar melewati jalan lahir
akibat berat badan yang berlebihan, sehingga dapat menyebabkan patah tulang
pada janin di bagian tertentu. Bahkan dapat menyebabkan kematian karena bayi
sulit untuk keluar melalui jalan lahir pada saat persalinan.
(2) Hipoglikemia yaitu kadar glukosa dalam
darah yang terlalu rendah. Sekitar 20-50% bayi dengan ibu DMG mengalami
hipolikemia (Kadar gula dalam rendah/ di bawah normal) pada 24 jam pertama
setelah lahir. Karena produksi insulin bayi yang, sebagai reaksi terhadap kadar
glukosa ibu yang tinggi,
(3) Hambatan Pertumbuhan Janin, berat badan
bayi rendah pada kehamilan 37-40 minggu. Terjadi pada ibu DMG dengan komplikasi
vaskular. Hal ini terjadi juga karena adanya perubahan metabolik ibu selama
masa awal kehamilan.
(4) Kelainan
kongenital dan kelainan bawaan. Kejadian cacat bawaan pada bayi dari ibu DMG
sebanyak 4,1% . Cacat bawaan terjadi paling banyak pada kehamilan dengan DMG
yang tidak dipantau sebelum kehamilan dan pada trisemester pertama. Terjadi 50%
kematian pada bayi dari ibu DMG yang mengalami cacat bawaan yang berupa
pembesaran organ- organ vital seperti jantung, hati, ginjal, dan lain- lain.
(5) hipokalsemia
dan Hipomagnesemia. Hipokalsemia adalah keadaan dimana kadar Kalsium dalam
darah yang rendah sedangkan hipomagnesemia adalah kadar Kalsium dalam darah
yang terlalu rendah. Masalah ini lebih banyak bayi dari ibu DMG dibandingkan
pada bayi dari ibu nonDMG.
(6) Polisitemia
adalah suatu keadaan patologis dimana jumlah sel darah merah (eritrosit) yang
terkandung dalam darah melampaui batas normal sehingga darah menjadi lebih
kental. Polisitemia terjadi pada bayi yang terlahir dari ibu DMG. Polisitemia
dapat menyebabkan penyubatan pembuluh darah, serangan jantung, dan stroke.
(7)
Hiperbilirubinnemia adalah jumlah bilirubin yang berlebihan didalam tubuh. Hal
ini merupakan akibat lanjutan setelah terjadi polisitemia. Keberadaan eritrosit
yang tinggi menyebabkan eritrolisis (pemecahan eritrosit) yang tinggi pula.
Salah satu hasil dari eritrolisis adalah bilirubin. Salah satu dampak dari
hiperbilirubin yang paling umum terjadi adalah ikterus. Ikterus menyebabkan
kulit, lidah, dan mata sklera mata bayi berwarna kekuningan.
(8) Asfiksia dan sindrome gawat napas.
Asfiksia merupakan kondisi
kekurangan oksigen pada pernafasan yang bersifat mengancam jiwa. Sedangkan
sindrome gawat napas lebih sering terjadi pada bayi yang lahir prematur. Resiko
terjadinya asfiksia dan sindrome gawat napas lebih tinggi pada bayi dari
ibu dengan DMG, karena bayi sangat terpengaruh oleh hiperglikemia ibu sewaktu
dalam kandungan.
(9) Meningkatnya
resiko terlahir prematur dan terjadi keguguran. Resiko terjadinya keguguran
dapat meningkat 2-3 kali lipat bila dibandingkan dengan kehamilan normal tanpa
DMG, sedangkan resiko kelahiran prematur meningkat sampai 8%.
Sedangkan
dampak DMG bagi si ibu adalah:
(1) preklamsia
(2) polihidramnion
(3) infeksi saluran kemih
(4) persalinan seksio cesarea
(5) Meningkatkan peluang terkena penyakit diabetes melitus.
(1) Preklamsia adalah keracunan pada
kehamilan, namun keracunan yang terjadi bukan disebabkan oleh zat- zat yang
berasal dari luar tubuh tapi dari dalam tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan
komplikasi dan kematian pada ibu hamil. Peningkatan resiko preklamsi
dibandingkan kehamilan normal sebanyak 12%.
(2) Polihidramnion adalah volume air ketuban yang
berlebihan. Sehingga dapat
menyebabkan kelahiran prematur, permasalahan dengan tali pusar bayi, pendarahan
hebat pda ibu setelah melahirkan, perkembangan bayi yang lamban sampai dengan
kematian bayi. DMG meningkatkan peluang kejadian polihidramnion hingga 18%
dibandingkan kehamilan normal.
(3) Infeksi Saluran Kemih. Kadar glukosa darah
dapat terjadi menyebabkan gangguan pada sistem pembentukan urine sehingga
terjadi infeksi saluran kemih.
(4) Persalinan seksio cesarea. Persalinan pada ibu
penderita DMG adalah persalinan beresiko tinggi terjadi kematian baik pada ibu
maupun pada janin apabila dilakukan secara normal Sehingga harus dilakukan
persalinan dengan jalan seksio cesarea. Hal ini disebabkan resiko melahirkan
bayi dalam keadaan makrosomia ataupun prematur yang tinggi pula. Peluang
terjadi persalinan seksio cesarea pada ibu penderita DMG dapat meningkat hingga
mencapai 20-60% dibandingkan kehamilan normal.
(5) Meningkatkan peluang terkena penyakit
diabetes melitus (DM). Banyaknya peningkatan peluang tersebut adalah sebanyak 50% akan mengalami DMG pada kehamilan
selanjutnya dan 40 – 60% akan menderita DM dimasa depan.
Penanganan Kehamilan dengan DMG
Perawatan
dan penanganan bagi ibu hamil yang menderita DMG dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu: Diet dan pemberian insulin.
(1) Diet merupakan langkah awal untuk
mengatasi DMG. Menurut Hunter dan (2004, 107-111) ada beberapa tips dalam menjalankan
diet bagi penderita DMG yaitu:
(a) Ikuti paduan diet seimbang. Diet yang
sesuai merupakan bagian penting pada penatalaksanaan semua wanita hamil yang
diabetes. Diet pada penderita DMG bertujuan untuk mengendalikan dan
menghentikan peningkatan glukosa darh yang terlalu tinggi dan kemudian
menyebabakan masalah- masalah kesehatan.
(b) Jangan mengurangi asupan makanan dalam
jumlah yang terlalu banyak, karena bagaimanapun juga pada ibu hamil tetap
dibutuhkan asupan makanan yang bergizi tinggi untuk memenuhi baik kebutuhan
tubuh ibu sendiri maupun untuk kebutuhan tumbuh kembang janin yang ada dalam
kandungannya.
(c)
Makan dan minum dengan teratur setiap
hari sehingga tingkat glukosa darah tetap relatif stabil, tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi.
Ini mungkin dapat dilakukan dengan cara makan makanan utama dalam porsi yang
sedikit lebih kecil daripada biasanya dan satu atau dua kudapan tambahan yang
sehat seperti buah dan sayuran.
(d) Hindari asupan gula yang banyak baik
pada makanan maupun minuman karena pankreas mungkin tidak mampu memproduksi
cukup insulin untuk itu. Ingatlah bahwa semakin banyak kata- kata yang
tercantum dalam daftar bahan- bahan (ingredients), maka semakin besar pula
kandungan gula pada makanan tersebut. Yang harus dihindari adalah gula yang
diserap terlalu cepat seperti dekstosa, glukosa, sukrosa, dana maltosa. Pada
nasi banyak terkandung glukosa sehingga dokter biasanya akan menyarankan untuk
menggantinya denag jagung atau singkong. Gula alami dalam susu (laktosa) dan
buah (fruktosa) diserap lebih lambat.
(e) Ganti makanan bergula dengan makanan
berserat. Makanan yang mengandung serat larut (seperti oat, buncis, kapri,
lentil, dan beberapa buah) lebih lambat diserap daripada yang lain sehingga
dapat membantu menghindari kenaikan glukosa darah yang tiba- tiba. Selain itu
makanan berserat juga membantu menunda datangnya rasa lapar saat diet karena
strukturnya yang cenderung lebih sukar dicerna daripada makanan bergula
sehingga akan bertahan lebih lama dalam saluran makanan yang akan membantu
menunda kekosongan perut dan rasa lapar.
Menurut
Prawirohardjo (2009, 294) pada umumnya oleh dokter untuk penderita DMG
dianjurkan jumlah kalori yang dikonsumsi adalah 35 kal/kgBB ideal, kecuali pada
penderita yang obesitas, perlu dipertimbangkan kalori yang sedikit rendah. Cara
untuk menghitung BB (Berat badan) ideal adalah dengan rumus: BB ideal = (TB-100)-10%.
Kebutuhan kalori
merupakan jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan dari: (a) kalori basal
25 kal/kgBB ideal, (b) kalori untuk kegiatan jasmani 10-30%, (c) Penambahan
kalori untuk kehamilan 300 kal. Komposisi makanan yang dianjurkan sama dengan
komposisi makanan yang dianjurkan untuk pasien DM pada umunya. Namun, untuk
menjamin pertumbuhan janin yang baik harus diingat bahwa kebutuhan protein ibu
hamil dianjurkan 1-1,5 g/kgBB.
(2) Pemberian
Insulin. Ibu hamil yang menderita DMG atau yang mempunyai konsentrasi gula
darah yang tinggi harus dirawat lebih seksama dan diberi insulin apabila dengan
diet tidak cukup berhasil untuk menurunkan kadar glukosa.
Dosis insulin yang diberikan sangat
individual. Pemberian insulin ditujukan untuk mencapai konsentrasi gula darah
yang normal karena insulin mampu mengatasi gula darah yang berlebihan. Makrosomia
dapat diturunkan dengan cara pemberian insulin untuk mencapai konsentrasi darah
dalam keadaan setelah makan kurang lebih 80 mg/dl (4,4 mmol/l). Oleh karena
itu, dalam pemberian insulin akan dipertimbangkan ketepatan waktu pengukuran
gula darah, konsentrasi target glukosa, dan karakteristik pertumbuhan janin.