Senin, 19 Oktober 2015

Apa penyebab DMG? Apa Dampaknya Bagi ibu dan Bayi? dan Bagaimana Penanganan Kehamilannya? ?

 Penyebab DMG
Terjadinya DMG dikarenakan menurunnya efisiensi kerja maupun kadar insulin dalam tubuh . Insulin adalah suatu hormon yang disekresikan (diproduksi) oleh sel- sel β di pankreas (salah satu organ pencernaan) dan bertugas untuk menurunkan kadar glukosa dalam tubuh dengan cara mempengaruhi atau merangsang terjadinya 3 proses dalam tubuh yaitu: 

(1) Proses glukolisis adalah proses pemecahan glukosa pada saat metabolisme sehingga menghasilkan energi. Insulin memfasilitasi terjadinya proses ini sehingga dengan kata lain insulin merangsang pemakaian glukosa oleh tubuh.
(2) Proses glikogenesis yaitu mekanisme pengubahan glukosa menjadi glikogen sehingga dapat disimpan di tubuh. Mekanisme ini amat penting sehingga tubuh memiliki cadangan sumber energi berupa glikogen yang dapat diubah kembali menjadi glukosa bila sewaktu- waktu tubuh kekurangan glukosa. Selain itu, glikogenesis juga merupakan salah satu jalan untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah. Penting untuk diketahui bahwa glukosa tidak bisa dijadikan cadangan sumber energi di dalam tubuh seperti halnya glikogen sehingga glukosa yang berlebihan akan dibuang melalui urin. Oleh karena itu bila dilakukan tes urin pada penderita diabetes biasanya terkandung glukosa dalam urinnya;
(3) Proses lipogenesis. yaitu merupakan suatu mekanisme tubuh untuk membuat cadangan sumber energi lain yaitu berupa lipid (lemak) selain dengan cara glikogenesis. Proses ini juga merupakan cara penurunan kadar glukosa selain glikogenesis. Lemak yang terbentuk dapat disimpan di tubuh dalam jumlah yang tak terbatas terutama dibawah lapisan kulit yang kerap kali dapat menimbulkan obesitas. Karena itu, pada orang yang obesitas resiko terkena diabetes akan semakin tinggi.
Menurunnya efektivitas kerja dan kadar insulin dalam tubuh mengakibatkan frekuensi berlangsungnya ketiga proses diatas menjadi menurun atau terganggu, sehingga kadar glukosa dalam darah menjadi meningkat dan relatif stabil dalam keadaan jauh diatas ambang normal (hiperglikemia) terutama setelah makan.

 Dampak DMG Bagi Ibu dan Bayi
Menurut Prawirohardjo (2009, 290-291) dan Brudenell serta Doddridge (1996, 65-67) berbagai macam dampak dapat ditimbulkan akibat DMG. Dampak yang ditimbulkan bahkan dapat ini dapat membahayakan nyawa ibu maupun janin.
Dampak DMG yang dapat diderita oleh janin kehamilan dengan DMG adalah sebagai berikut: 
(1) Makrosomia
(2) Hipoglikemia
(3) Hambatan Pertumbuhan Janin
(4) Cacat Bawaan
(5) hipokalsemia dan Hipomagnesemia
(6) Polisitemia hematologis
(7) Hiperbilirubinnemia
(8) Asfiksia pada bayi baru lahir
(9) Meningkatnya resiko terlahir prematur dan terjadi keguguran.
 
 
(1) Makrosomia adalah janin berukuran besar melebihi normal bahkan dapat mencapai berat 5 kg. Sebanyak 40% ibu dengan DMG melahirkan bayi dengan berat badan berlebihan pada semua usia kelahiran. Makrosomia mempertinggi terjadinya cedera kelahiran yang dapat disebabkan sulitnya bahu keluar melewati jalan lahir akibat berat badan yang berlebihan, sehingga dapat menyebabkan patah tulang pada janin di bagian tertentu. Bahkan dapat menyebabkan kematian karena bayi sulit untuk keluar melalui jalan lahir pada saat persalinan.
 (2) Hipoglikemia yaitu kadar glukosa dalam darah yang terlalu rendah. Sekitar 20-50% bayi dengan ibu DMG mengalami hipolikemia (Kadar gula dalam rendah/ di bawah normal) pada 24 jam pertama setelah lahir. Karena produksi insulin bayi yang, sebagai reaksi terhadap kadar glukosa ibu yang tinggi,
(3) Hambatan Pertumbuhan Janin, berat badan bayi rendah pada kehamilan 37-40 minggu. Terjadi pada ibu DMG dengan komplikasi vaskular. Hal ini terjadi juga karena adanya perubahan metabolik ibu selama masa awal kehamilan.
(4) Kelainan kongenital dan kelainan bawaan. Kejadian cacat bawaan pada bayi dari ibu DMG sebanyak 4,1% . Cacat bawaan terjadi paling banyak pada kehamilan dengan DMG yang tidak dipantau sebelum kehamilan dan pada trisemester pertama. Terjadi 50% kematian pada bayi dari ibu DMG yang mengalami cacat bawaan yang berupa pembesaran organ- organ vital seperti jantung, hati, ginjal, dan lain- lain.
(5) hipokalsemia dan Hipomagnesemia. Hipokalsemia adalah keadaan dimana kadar Kalsium dalam darah yang rendah sedangkan hipomagnesemia adalah kadar Kalsium dalam darah yang terlalu rendah. Masalah ini lebih banyak bayi dari ibu DMG dibandingkan pada bayi dari ibu nonDMG.
(6) Polisitemia adalah suatu keadaan patologis dimana jumlah sel darah merah (eritrosit) yang terkandung dalam darah melampaui batas normal sehingga darah menjadi lebih kental. Polisitemia terjadi pada bayi yang terlahir dari ibu DMG. Polisitemia dapat menyebabkan penyubatan pembuluh darah, serangan jantung, dan stroke.
(7) Hiperbilirubinnemia adalah jumlah bilirubin yang berlebihan didalam tubuh. Hal ini merupakan akibat lanjutan setelah terjadi polisitemia. Keberadaan eritrosit yang tinggi menyebabkan eritrolisis (pemecahan eritrosit) yang tinggi pula. Salah satu hasil dari eritrolisis adalah bilirubin. Salah satu dampak dari hiperbilirubin yang paling umum terjadi adalah ikterus. Ikterus menyebabkan kulit, lidah, dan mata sklera mata bayi berwarna kekuningan.
 (8) Asfiksia dan sindrome gawat napas. Asfiksia merupakan kondisi kekurangan oksigen pada pernafasan yang bersifat mengancam jiwa. Sedangkan sindrome gawat napas lebih sering terjadi pada bayi yang lahir prematur. Resiko terjadinya asfiksia dan sindrome gawat napas lebih tinggi pada bayi dari ibu dengan DMG, karena bayi sangat terpengaruh oleh hiperglikemia ibu sewaktu dalam kandungan.
(9) Meningkatnya resiko terlahir prematur dan terjadi keguguran. Resiko terjadinya keguguran dapat meningkat 2-3 kali lipat bila dibandingkan dengan kehamilan normal tanpa DMG, sedangkan resiko kelahiran prematur meningkat sampai 8%.
 
 
Sedangkan dampak DMG bagi si ibu adalah:  
(1) preklamsia
(2) polihidramnion
(3) infeksi saluran kemih
(4) persalinan seksio cesarea
(5) Meningkatkan peluang terkena penyakit diabetes melitus. 
 
 
(1) Preklamsia adalah keracunan pada kehamilan, namun keracunan yang terjadi bukan disebabkan oleh zat- zat yang berasal dari luar tubuh tapi dari dalam tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan komplikasi dan kematian pada ibu hamil. Peningkatan resiko preklamsi dibandingkan kehamilan normal sebanyak 12%.
(2) Polihidramnion adalah volume air ketuban yang berlebihan. Sehingga dapat menyebabkan kelahiran prematur, permasalahan dengan tali pusar bayi, pendarahan hebat pda ibu setelah melahirkan, perkembangan bayi yang lamban sampai dengan kematian bayi. DMG meningkatkan peluang kejadian polihidramnion hingga 18% dibandingkan kehamilan normal.
(3) Infeksi Saluran Kemih. Kadar glukosa darah dapat terjadi menyebabkan gangguan pada sistem pembentukan urine sehingga terjadi infeksi saluran kemih.
(4) Persalinan seksio cesarea. Persalinan pada ibu penderita DMG adalah persalinan beresiko tinggi terjadi kematian baik pada ibu maupun pada janin apabila dilakukan secara normal Sehingga harus dilakukan persalinan dengan jalan seksio cesarea. Hal ini disebabkan resiko melahirkan bayi dalam keadaan makrosomia ataupun prematur yang tinggi pula. Peluang terjadi persalinan seksio cesarea pada ibu penderita DMG dapat meningkat hingga mencapai 20-60% dibandingkan kehamilan normal.
(5) Meningkatkan peluang terkena penyakit diabetes melitus (DM). Banyaknya peningkatan peluang tersebut adalah sebanyak 50% akan mengalami DMG pada kehamilan selanjutnya dan 40 – 60% akan menderita DM dimasa depan.
 
Penanganan Kehamilan dengan DMG
Perawatan dan penanganan bagi ibu hamil yang menderita DMG dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:  Diet dan pemberian insulin.
 
 (1) Diet merupakan langkah awal untuk mengatasi DMG. Menurut Hunter dan (2004, 107-111) ada beberapa tips dalam menjalankan diet bagi penderita DMG yaitu:
(a) Ikuti paduan diet seimbang. Diet yang sesuai merupakan bagian penting pada penatalaksanaan semua wanita hamil yang diabetes. Diet pada penderita DMG bertujuan untuk mengendalikan dan menghentikan peningkatan glukosa darh yang terlalu tinggi dan kemudian menyebabakan masalah- masalah kesehatan.
(b) Jangan mengurangi asupan makanan dalam jumlah yang terlalu banyak, karena bagaimanapun juga pada ibu hamil tetap dibutuhkan asupan makanan yang bergizi tinggi untuk memenuhi baik kebutuhan tubuh ibu sendiri maupun untuk kebutuhan tumbuh kembang janin yang ada dalam kandungannya.
(c)  Makan dan minum dengan teratur setiap hari sehingga tingkat glukosa darah tetap relatif stabil,  tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Ini mungkin dapat dilakukan dengan cara makan makanan utama dalam porsi yang sedikit lebih kecil daripada biasanya dan satu atau dua kudapan tambahan yang sehat seperti buah dan sayuran.
(d) Hindari asupan gula yang banyak baik pada makanan maupun minuman karena pankreas mungkin tidak mampu memproduksi cukup insulin untuk itu. Ingatlah bahwa semakin banyak kata- kata yang tercantum dalam daftar bahan- bahan (ingredients), maka semakin besar pula kandungan gula pada makanan tersebut. Yang harus dihindari adalah gula yang diserap terlalu cepat seperti dekstosa, glukosa, sukrosa, dana maltosa. Pada nasi banyak terkandung glukosa sehingga dokter biasanya akan menyarankan untuk menggantinya denag jagung atau singkong. Gula alami dalam susu (laktosa) dan buah (fruktosa) diserap lebih lambat.
(e) Ganti makanan bergula dengan makanan berserat. Makanan yang mengandung serat larut (seperti oat, buncis, kapri, lentil, dan beberapa buah) lebih lambat diserap daripada yang lain sehingga dapat membantu menghindari kenaikan glukosa darah yang tiba- tiba. Selain itu makanan berserat juga membantu menunda datangnya rasa lapar saat diet karena strukturnya yang cenderung lebih sukar dicerna daripada makanan bergula sehingga akan bertahan lebih lama dalam saluran makanan yang akan membantu menunda kekosongan perut dan rasa lapar.
Menurut Prawirohardjo (2009, 294) pada umumnya oleh dokter untuk penderita DMG dianjurkan jumlah kalori yang dikonsumsi adalah 35 kal/kgBB ideal, kecuali pada penderita yang obesitas, perlu dipertimbangkan kalori yang sedikit rendah. Cara untuk menghitung BB (Berat badan) ideal adalah dengan rumus: BB ideal = (TB-100)-10%.
Kebutuhan kalori merupakan jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan dari: (a) kalori basal 25 kal/kgBB ideal, (b) kalori untuk kegiatan jasmani 10-30%, (c) Penambahan kalori untuk kehamilan 300 kal. Komposisi makanan yang dianjurkan sama dengan komposisi makanan yang dianjurkan untuk pasien DM pada umunya. Namun, untuk menjamin pertumbuhan janin yang baik harus diingat bahwa kebutuhan protein ibu hamil dianjurkan 1-1,5 g/kgBB. 
 
(2) Pemberian Insulin. Ibu hamil yang menderita DMG atau yang mempunyai konsentrasi gula darah yang tinggi harus dirawat lebih seksama dan diberi insulin apabila dengan diet tidak cukup berhasil untuk menurunkan kadar glukosa.  
Dosis insulin yang diberikan sangat individual. Pemberian insulin ditujukan untuk mencapai konsentrasi gula darah yang normal karena insulin mampu mengatasi gula darah yang berlebihan. Makrosomia dapat diturunkan dengan cara pemberian insulin untuk mencapai konsentrasi darah dalam keadaan setelah makan kurang lebih 80 mg/dl (4,4 mmol/l). Oleh karena itu, dalam pemberian insulin akan dipertimbangkan ketepatan waktu pengukuran gula darah, konsentrasi target glukosa, dan karakteristik pertumbuhan janin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar